Wow....Jumlah ‘Janda Covid 19’ di Bandung dan Jaksel Meningkat

Penggugat sebagian besar para istri, yang sudah tidak tahan lagi dengan carut marutnya kondisi ekonomi rumah tangga

Wow....Jumlah ‘Janda Covid 19’ di Bandung dan Jaksel Meningkat
Ilustrasi

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama kurun waktu enam bulan terakhir, secara tidak langsung mengubah begitu banyak aspek kehidupan di tengah masyarakat, termasuk keharmonisan rumah tangga. Bahkan di jagad media sosial, belum lama ini viral video yang memperlihatkan keberadaan para suami atau istri yang tengah mengantri di Pengadilan Agama Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Usut punya usut, keberadaan para suami atau istri tersebut ternyata bukan untuk mendapatkan bantuan langsung tunai atau BLT dari pemerintah, melainkan untuk mengajukan bahkan menjalani sidang cerai. “Ya, hari senin lalu memang sempat membludak, baik warga yang mau mendaftarkan gugatan, menghadiri sidang, maupun mengambil berkas persidangan. Ini akibat tanggal 17 Agustus libur, jadi semua kegiatan terfokus pada tanggal 24 Agustus kemarin,” ungkap Humas PA Soreang Suharja, mengomentari video viral tersebut.

Meningkatnya angka perceraian di Kabupaten Bandung selama Pandemi Covid-19, ternyata bukan sekadar isapan jempol. Lantaran pihak Pengadilan Agama Soreang membenarkan, jika selama bulan Juli saja ada 1102 perkara yang masuk. Konon, faktor penyebab perceraian kebanyakan dikarenakan faktor ekonomi dan juga perselisihan rumah tangga, dengan gugatan didominasi oleh istri sebagai penggugat, yang mencapai angka 70 % dari total gugatan yang masuk.

“Faktor ekonomi memang menjadi pemicu utama. Penggugat sebagian besar para istri, lantaran tidak tahan dengan kondisi rumah tangga, khususnya masalah ekonomi yang berantakan setelah para suami dirumahkan atau di PHK selama pandemi,” imbuh Suharja. Kondisi yang nyaris sama juga terjadi di Jakarta Selatan, Ya, merosotnya perekonomian masyarakat akibat terdampak Pandemi Covid-19, mengakibatkan
kasus perceraian juga meningkat di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Sama seperti di Bandung, di Jakarta Selatan gugatan cerai juga mayoritas dilakukan oleh pihak istri, lantaran masalah ekonomi.

“Untuk Bulan Agustus saja, tercatat gugatan yag masuk mencapai 400 perkara. 80 persennya merupakan gugatan cerai, baik yang didaftarkan oleh pihak istri maupun suami. Alasannya juga kebanyakan karena faktor ekonomi, entah di PHK atau dirumahkan,” ungkap Humas PA Jaksel Rukmana Ibrahim, seraya menambahkan sebelum Pandemi Covid 19, angka gugatan cerai di Jaksel hanya berkisar antara
150 hingga 250 perkara.

Tingginya angka perceraian di masa pendemi, juga tidak luput dari perhatian Psikolog Alexandra Gabriella. Menurutnya, penelitian di Cina juga menunjukan meningkatnya angka perceraian di Negara Tirai Bambu tersebut, selama Covid 19. “Jadi, kondisi ini memang tidak terjadi di tanah air saja. Faktor ekonomi, yang bisa melebar menjadi faktor-faktor lainnya termasuk KDRT, bisa saja menjadi pemicu banyaknya para istri yang sudah tidak tahan lagi dengan kondisi rumah tangganya yang porak-poranda selam pandemi, untuk mengajukan gugatan cerai,” imbuhnya. (Car)