Viral, Palsukan Tanda Tangan, Cucu Tipu dan Usir Nenek

0 15

SPcom BANDUNG – Viral di media sosial video yang menayangkan seorang nenek pensiunan guru SMPK BPK bernama Ellen Plaissaer Sjair (80) ditipu oleh cucu tirinya berinisial IW. 

Nenek tersebut merupakan warga Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Dia hidup sebatang kara dan terancam kehilangan rumahnya yang selama ini ditempati bersama mendiang suaminya. 

Dalqm video berdurasi 1 menit 41 detik itu, terdengar jelas sang nenek sedang ditanya oleh seseorang terkait persoalan yang dihadapinya. 

Sebab dirinya terancam diusir karena sertifikat rumahnya dicuri dan dijual oleh cucu tirinya, serta tanda tangan dirinya juga dipalsukan. 

“Saya mohon kepada Pak Jokowi, Presiden, kepada Gubernur Jawa Barat Pak Emil, Ridwan Kamil, dan Bupati Bandung Barat supaya menolong nenek agar tidak diusir dari rumah ini, karena nenek tidak tahu harus pergi ke mana. Enggak punya apa-apa lagi, ya minta tolonglah sama beliau-beliau,” tuturnya. 

Ellen saat ini dipaksa mengosongkan rumahnya meski tidak pernah menjualnya. Itu terjadi ketika cucu tirinya berinisial IW mencuri sertifikat rumah yang diwasiatkan kepadanya dari mendiang suaminya, Peter S. Danoewinata (alm) sekitar tahun 2013. 

IW juga memalsukan tanda tangan Ellen pada surat kuasa menjual rumah. Pada tahun 2015, Ellen melaporkan IW ke kepolisian atas dugaan tindak pidana pemalsuan tanda tangan. 

IW pun terbukti bersalah dan telah menjalani hukuman kurungan penjara selama 2 tahun. Bahkan notaris yang terlibat dalam pembuatan Surat Kuasa Menjual berinisial FL pun telah dinyatakan bersalah oleh majelis pengawas daerah notaris.

Namun pada tahun yang sama, pihak yang membeli rumah dari IW justru menggugat Ellen untuk mengosongkan dan menyerahkan rumah. 

Tragisnya, Ellen kalah tiga kali berturut-turut dalam persidangan melawan pihak pembeli, bahkan sampai tingkat Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung. Sehingga dia dipaksa untuk mengosongkan dan menyerahkan rumahnya. 

“Ini jelas melukai rasa keadilan. Bagaimana hukum yang diciptakan untuk manusia justru memperkosa hak manusia itu sendiri?” kata Kepala Kantor Hukum Williard Malau & Partner, Willard Malau yang membantu kasus Nenek Ellen. 

“Nenek Ellen itu korban kejahatan IW yang memalsukan tanda tangannya untuk menjual rumah, namun malah dipaksa menyerahkan rumahnya,” katanya. 

Pihaknya yang membantu Nenek Ellen sejak Desember 2020 secara Pro Bono (cuma-cuma) atas dasar kemanusiaan dan tercapainya keadilan, memohon Pengadilan Negeri Bale Bandung Kelas 1A untuk menunda proses eksekusi. 

Sebab pihaknya sedang mengajukan gugatan perdata untuk membatalkan akta jual beli yang cacat hukum tersebut. 

“Harapan Nenek Ellen di masa senjanya adalah dapat tinggal dengan damai di rumah kenangan peninggalan mendiang suaminya,” katanya.

“Dia pun tidak menuntut ganti rugi satu rupiah pun baik kepada IW ataupun Pembeli. Beliau hanya memohon belas kasih agar rumah tersebut tidak diambil paksa,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.