“Sejak musibah banjir bandang dan longsor di tahun 2020, kampung ini sudah gak bisa dihuni lagi karena masuk zona merah. Semua penduduk pindah,” ujar Ali mantan ketua RT.
SPcom JAKARTA – Banyak kisah di balik keberadaan sebuah desa atau kawasan pemukiman penduduk, yang ditinggalkan begitu saja oleh warganya. Biasanya, warga dengan berat hati terpaksa meninggalkan desa mereka, yang sudah dihuni sejak lama dan juga menjadi tempat mereka beranak-pinak, lantaran adanya bencana alam seperti banjir bandang, letusan gunung merapi, dan juga kejadian-kejadian mengerikan lainnya. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan Kampung Nyomplong Bogor, yang menjadi desa mati?.
Terletak di Desa Kiarapandak, Sukajaya, Bogor, Jawa Barat, warga Kampung Nyomplong mengalami kisah tragis, tepat di tahun baru 1 Januari 2020 lalu. Musibah banjir bandang dan tanah longsor yang datang tiba-tiba, membuat kampung ini langsung tak berpenghuni, lantaran ditinggalkan ratusan warganya yang menyelamatkan diri.
Sontak, desa yang awalnya ramai oleh riuh 60-an KK warganya itu, menjelma menjadi kota mati. Seiring dengan itu pula muncul beragam cerita horor dan di luar nalar, yang bikin bulu kuduk merinding. Seperti yang dituturkan ketua RT setempat dan beberapa warga, yang akan menengok rumah lama mereka.
“Sejak musibah banjir bandang dan longsor di tahun 2020, kampung ini sudah gak bisa dihuni lagi karena masuk zona merah. Semua penduduk pindah, sehingga kampung Nyomplong jadi kampong mati. Warga cerita, dari rumah-rumah yang kosong, sering terlihat bayangan. Padahal, semua rumah dan bangunan di sini sudah kosong,” ungkap Ali, mantan ketua RT.
Lain lagi cerita Aam, warga sekitar. Menurut ibu dua anak ini, dia acap merinding saat masuk ke rumahnya sendiri, yang juga sudah kosong. “Kayak ada penampakan diikutin gorden yang tiba-tiba tertutup sendiri. Sementara di pemancingan, sering muncul amak kecil, tapi mukanya aneh seperti orang tua,” jelas Aam.
Di sisi lain, jika diperhatikan lebih seksama, sebenernya Kampung Nyomplong terbilang sangat asri dan damai, dengan nuansa pedesaan serta panorama alam yang sangat asri. Tampak terlihat sebagian rumah-rumah ini sudah ada yang roboh dan hancur, namun masih ada yang terlihat kokoh dengan struktur bangunan permanen.
Namun sesekali warga sekitar masih ada yang bercocok tanam di sawah lantaran mereka butuh makan sehingga mereka melakukan aktivitas pekerjaan di sawah tetapi hanya sebatas untuk bertani selepas Ashar mereka kembali ke rumahnya masing-masing.
Terasa sekali saat itu sunyi dan malam hari tanpa ada penerangan lampu menambah kesunyian kampung tersebut. Mungkin lantaran tak ada penghuninya kampung tersebut pun kemudian dinamakan Kampung Nyomplong yang artinya melompong, kosong bagai kampung mati. (SP)