suryapagi.com
MISTERIRAGAM

Misteri Rumah Lengkong Serpong, Saksi Bisu Perjuangan Mayor Daan Mogot 

Ada sebuah larangan yang wajib dipatuhi, yakni tidak boleh menggunakan cahaya atau flash saat mengambil gambar

SPcom JAKARTA – Berada di wilayah Lengkong, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), Monumen Palagan Lengkong atau Rumah Lengkong merupakan salah satu peninggalan bersejarah di Serpong, Kota Tangerang Selatan. Rumah Lengkong ini menyimpan kisah mistis dan saksi bisu perjuangan Mayor Daan Mogot  atau bernama lengkap Elias Daniel Mogot, anggota Tentara Keamanan Rakyat atau TKR

Rumah ini menjadi tempat berundingnya pasukan Jepang dengan Mayor Daan Mogot. Rumah yang terbilang mungil ini juga merupakan tempat persinggahan tentara Jepang di tahun 1945. Di rumah itu pula, Mayor Daan Mogot gugur usai tubuhnya ditembus timah panas oleh serdadu Jepang saat perundingan. Sementara, beberapa anggota pasukan pengawal Daan Mogot juga banyak yang tewas.

Kisah heroik itu bermula ketika Mayor Daan Mogot, 2 perwira berpangkat mayor, dan 70 taruna yang tergabung dalam Resimen IV ditugaskan untuk melucuti senjata tentara Jepang di Lengkong Tangerang pada pada 25 Januari 1946. Ketika itu Jepang telah resmi dinyatakan kalah dari Sekutu dalam Perang Dunia II.

Misi pasukan Mayor Daan Mogot adalah untuk mencegah senjata Jepang jatuh ke tangan Belanda yang berkedudukan di Bogor. Pelucutan senjata ini bukan tanpa sebab. Resimen IV–yang dulu sebagai penjaga keamanan setelah kemerdekaan di Tangerang–menilai harus melucuti senjata Jepang di Lengkong, karena pasukan sekutu Belanda dan Inggris saat itu sudah menduduki Parung Bogor

 Sesampainya di markas Jepang, yang kini bernama Rumah Lengkong, Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan seorang taruna yang fasih berbahasa Jepang bernama Sajoeti bertemu dengan Kapten Abe, pimpinan tentara Jepang di Lengkong.

Puluhan taruna lainnya menunggu di luar di bawah pengawasan Lettu Soebianto dan Lettu Soetopo, yang bersiap melucuti senjata Jepang.Namun, semua berubah, ketika terdengar suara letusan tembakan dan pecahlah aksi saling tembak karena tentara Jepang menganggap pelucutan itu adalah penyergapan.

“Tentara yang panik dan mengira diserang serentak, menembak pasukan TRI Resimen 4. Para taruna yang tidak menyangka terjadi peristiwa itu berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Pertempuran tersebut berakhir dengan menelan korban 34 taruna, dan 3 perwira, termasuk Mayor Daan Mogot,” demikian keterangan dalam sebuah papan Monumen Palagan Lengkong.


Gugurnya Mayor Daan Mogot kemudian diabadikan menjadi nama Jalan Daan Mogot yang menghubungkan Kota Tangerang dengan Jakarta Barat. Sementara, Rumah Lengkong yang menjadi saksi bisu perjuangan Daan Mogot kerap didatangi pengunjung. Namun, ada sebuah larangan yang wajib dipatuhi, yakni tidak boleh menggunakan cahaya atau flash saat mengambil gambar.

Dari cerita yang beredar, ada seorang pengunjung yang melanggar aturan itu. Akibatnya, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya usai meninggalkan Rumah Lengkong. Meskipun ada kisah-kisah mistis yang mengiringi, namun Rumah Lengkong tetap menjadi saksi sejarah perjuangan pahlawan demi kemerdekaan Indonesia. (SP)

Related posts

Rita Sugiarto Kecewa Putranya Terjerat Kasus Narkoba

Ester Minar

Model Ayu Aulia Jadi Tersangka Dugaan Penganiayaan

Ester Minar

Misteri Pulau Kecil Di Danau Sunter, Istana Para Lelembut

Rasid

Leave a Comment