Implementasi Gas Industri $6 Per MMBTU Dorong Sektor Manufaktur

Industri manufaktur telah menjadi kontributor terbesar PDB nasional

Implementasi Gas Industri $6 Per MMBTU Dorong Sektor Manufaktur
Menperin, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Ist)

JAKARTA — Untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing industri manufaktur Indonesia, Kementerian Perindustrian menyatakan implementasi harga gas industri menjadi US $6 per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, bahwa industri manufaktur mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah karena menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Kebijakan ini pun diharapkan mampu mendorong industri manufaktur domestik menjadi lebih ekspansif dan meningkatkan kontribusi kepada ekonomi nasional.

"Kami berharap kebijakan harga gas US$6 per MMBTU ini dapat mengurangi beban industri manufaktur, khususnya di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima media, Minggu (7/6/2020).

Regulasi ini disebut sudah sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas (ratas) kabinet pada 6 Januari 2020 serta mengacu ke Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2016 tentang Penerapan Harga Gas Bumi.

Penurunan harga gas bumi bagi industri sebelumnya hanya diberikan kepada delapan perusahaan dari tiga sektor, yakni industri pupuk, petrokimia, dan baja. Kemudian, diperluas kepada 188 perusahaan dari tujuh sektor, yakni pupuk, petrokimia, baja, keramik, kaca, sarung tangan karet, dan oleokimia.

Agus juga meminta kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk dapat memperluas daftar penerima manfaat kebijakan ini.

Sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 89K/10/MEM/2020 tentang Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) menyalurkan gas kepada enam sektor industri tertentu.

Keenam industri ini yaitu industri kaca sebanyak 51,72 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD), industri keramik 96 BBTUD, industri baja 53 BBTUD, industri oleokimia 30 BBTUD, industri petrokimia 75,7 BBTUD, dan industri sarung tangan karet 1,23 BBTUD. Adapun industri pupuk berkomitmen langsung dengan pihak produsen.

"Kami menyampaikan penghargaan dan apresiasi atas kinerja berbagai pihak yang mendorong terbitnya Keputusan Menteri ESDM Nomor 89K/10/MEM/2020 yang sudah ditunggu-tunggu industri selama 4 tahun terakhir," tandas Agus.(Sp)