IPW: Penangkapan Nurhadi Kerjasama KPK dan Polri

Bambang Widjojanto Memuji Novel Baswedan Atas Penangkapan Nurhadi

IPW: Penangkapan Nurhadi Kerjasama KPK dan Polri
Ketua Presidium IPW Neta S Pane

DimensiNews.co.id JAKARTA - Ind Police Watch (IPW) menilai, Mantan Komisioner KPK Bambang Widjojanto mencoba membuat intrik dan politik belah bambu, dengan memuji muji Novel Baswedan dalam penangkapan mantan Sekretaris MA Nurhadi.

Seolah penangkapan itu hasil kerja Novel pribadi. Padahal IPW sejak Nurhadi buron, KPK sudah meminta bantuan Polri, untuk sama-sama memburu Nurhadi," ujar Neta S Pane, Presidium IPW dalam siaran pers.

Hingga di pertengahan Februari 2019, Nurhadi terlacak keberadaannya sedang melakukan sholat dhuha di sebuah mesjid di Jakarta. Namun ia berhasil kabur saat hendak ditangkap. Sedikitnya lima kali Nurhadi terpantau di lima mesjid tapi tetap lolos dari penangkapan.

Berbagai info tentang Nurhadi disampaikan masyarakat ke KPK. Dari pantauan IPW, setiap informasi tentang keberadaan DPO dilacak KPK dengan serius.

Bagi KPK pimpinan Komjen Firli semua info yang masuk selalu diposisikan sebagai sesuatu hal yang penting, sehigga dibahas bersama tim. Dalam hal ini, tidak ada individu yang dominan, apalagi merasa sok hebat sendiri.

Seperti keberadaan Nurhadi kemarin, KPK sudah mendapat info sejak Senin siang hari dan terdeteksi masuk ke rumah yang disewanya di Simprug Jakarta Selatan pada sore hari dan malamnya dilakukan penggeledahan dengan melibatkan semua unit kerja di KPK. Termasuk melibatkan satu regu anggota Polri berseragam dan lengkap dengan senjata laras panjang.

"Anggota Polri ikut mengawal jalannya penangkapan Nurhadi untuk mengantisipasi situasi. Sebab ada isu yang beredar bahwa selama ini Nurhadi berlindung pada seorang oknum," ungkapnya.

Namun dalam penangkapan malam itu IPW menilai, tim KPK dan Polri bekerja profesional dengan menjunjung tinggi  kepastian hukum dan menghormati HAM.

IPW berharap sinerji Tim KPK dan Polri ini bisa semakin mantap dan solid ke depan agar oknum oknum yang melindungi DPO menjadi ciut nyali. Tidak seperti KPK di era sebelumnya yang cenderung mengabaikan keberadaan Polri dan merasa sok hebat sendiri.

"Sangat aneh, jika mantan pimpinan KPK Bambang Widjajanto tiba-tiba memuji Novel Baswedan setinggi langit, dalam penangkapan Nurhadi. Bambang seolah olah mimpi di siang bolong dengan post power syndromenya dan mencoba menciptakan pahlawan kesiangan," tegasnya.

IPW memberi apresiasi atas solidnya kinerja Tim KPK dan Polri dalam penangkapan buronan Nurhadi. Dengan solidnya Tim KPK tidak ada lagi pahlawan kesiangan, tidak ada lagi figur yang merasa sok hebat sendiri dan tidak ada lagi perpecahan di tubuh KPK serta tidak ada lagi Polisi Taliban dan Polisi India di lembaga anti rasuha tsb.

Bambang yang saat ini menjadi Komite Pencegahan Korupsi Pemprov DKI Jakarta diminta tidak usah lagi mengomentari kinerja KPK.

"Lebih mengurusi jabatannya, misalnya memantau dugaan korupsi di balik dana bansos atau banyaknya masalah di balik penyaluran Bansos di Jakarta, ketimbang post power syndrome terhadap KPK. Toh Bambang sudah digaji besar oleh Pemprov DKI Jakarta," tandasnya.(Sp)