Fenomena Rojali mengacu pada kelompok pengunjung yang datang ke mal atau pusat perbelanjaan hanya untuk berjalan-jalan, bersantai, atau berswafoto, namun tidak melakukan transaksi belanja
SPcom JAKARTA – Pusat perbelanjaan di sejumlah kota besar terpantau kembali ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Namun, di tengah lonjakan pengunjung tersebut, pelaku usaha ritel menghadapi tantangan baru, yaitu maraknya fenomena rojali atau “rombongan jarang beli”. Fenomena rojali mengacu pada kelompok pengunjung yang datang ke mal atau pusat perbelanjaan hanya untuk berjalan-jalan, bersantai, atau berswafoto, namun tidak melakukan transaksi belanja.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja menilai hal itu berkaitan dengan adanya penurunan daya beli masyarakat saat ini. Kendati begitu, menurutnya kondisi ini hanya bersifat sementara.“Fenomena rojali tidak berjumlah banyak dan hanya bersifat sementara. Hal ini terjadi karena penurunan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah bawah,” ujar Alphonzus Widjaja, seperti dilansir Kompas.com, kemarin.
Alphonzus menjelaskan, masyarakat saat ini memang tetap berkunjung ke mal, namun dengan pola konsumsi yang berbeda dibanding masa sebelumnya. Alih-alih belanja dalam jumlah besar, pengunjung cenderung memilih barang atau produk dengan harga satuan yang lebih murah. “Karena uang yang dipegang relatif sedikit, maka terjadi kecenderungan untuk membeli produk yang unit price-nya kecil,” kata dia.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya transaksi pada sektor makanan dan minuman ringan, produk kebutuhan harian, atau barang diskon dengan harga terjangkau. Namun Alphonzus meyakini, fenomena rojali tak akan berlangsung lama. Seiring daya beli yang akan kembali pulih, maka fenomena rojali akan hilang. “Perubahan tren belanja akan kembali seperti semula, saat daya beli masyarakat pulih atau membaik,” ujarnya. (SP)
