Perekrutan Pindah dari Roblox ke Telegram, Densus 88 Tekankan Ancaman Global
SPcom JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan peringatan keras mengenai tren terbaru penyebaran ideologi radikalisme yang kini menyusup melalui dunia gim daring (game online). Fenomena ini dinilai mengkhawatirkan karena menyasar kelompok usia paling rentan, yaitu anak-anak dan remaja.
Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono, mengungkapkan sedikitnya 13 anak dari berbagai daerah di Indonesia telah terhubung melalui game populer Roblox. Hal itu kemudian dimanfaatkan sebagai pintu masuk jaringan simpatisan teroris.
“Sedikitnya 13 anak dari berbagai daerah di Indonesia telah terhubung melalui permainan daring Roblox, yang kemudian menjadi pintu masuk bagi jaringan simpatisan teroris,” ucap Eddy di Jakarta, Rabu (1/10).
Interaksi tersebut dengan cepat bergeser ke platform komunikasi tertutup seperti Telegram dan WhatsApp, tempat proses indoktrinasi berlangsung lebih intens. Pola rekrutmen ini menjadi tantangan besar. Karena anak-anak kini bukan hanya target propaganda di media sosial, tetapi juga di ruang permainan sehari-hari mereka.
Eddy menyebut fenomena serupa juga terjadi di negara lain. Ia mencontohkan kasus di Singapura pada 2024, di mana seorang remaja 16 tahun ditangkap karena membuat simulasi zona militer di Roblox.
Lebih lanjut, BNPT mewaspadai pola ancaman terorisme global yang semakin adaptif. Meskipun pengaruh Al-Qaeda dan ISIS menurun, faktor lokal seperti ketidakadilan sosial dan isu politik tetap memicu kerentanan radikalisasi. Situasi diperparah dengan penggunaan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
“Penggunaan teknologi AI untuk membuat konten propaganda memperparah situasi. Konten buatan mesin yang sulit dibedakan dari asli berpotensi menyesatkan, terutama bila terus diulang dan dianggap sebagai kebenaran,” jelas Eddy.
Densus 88: Baiat dan Pelatihan Pindah ke Digital
Direktur Identifikasi dan Sosialisasi (Idensos) Densus 88 Antiteror Polri, Brigadir Jenderal Polisi Arif Makhfudiharto, menyambut baik inisiatif BNPT. Ia menegaskan bahwa ancaman radikalisasi di dunia maya kini bersifat global.
Brigjen Arif mengungkapkan adanya pergeseran signifikan dalam pola perekrutan. Jika dulu tahapan rekrutmen hingga baiat dan pelatihan (idad) dilakukan secara tatap muka, kini seluruh proses tersebut dapat dilakukan secara daring.
“Ketika seorang anak memiliki permasalahan pribadi, mereka bisa lebih mudah terjerumus dalam jejaring radikal melalui dunia maya. Ini masalah serius yang perlu kita tangani bersama,” kata Brigjen Pol. Arif.
BNPT mendorong koordinasi lintas kementerian/lembaga untuk memperkuat literasi digital, meningkatkan pengawasan ruang siber, dan memberikan perlindungan khusus bagi anak-anak serta remaja.
