Salah satu kendala utama adalah kerusakan pada bagian jari jenazah, sehingga sidik jari tidak bisa digunakan untuk pencocokan data
SPcom JAKARTA – Proses identifikasi korban runtuhnya musola di Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, menemui banyak kendala. Hingga kini, dari 14 korban yang ditemukan, 9 jenazah masih belum bisa dikenali secara pasti. Tim forensik Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Surabaya mengungkap sejumlah faktor yang menyulitkan proses identifikasi. Salah satu kendala utama adalah kerusakan pada bagian jari jenazah, sehingga sidik jari tidak bisa digunakan untuk pencocokan data.
“Anak-anak usia 12–15 tahun ini belum memiliki KTP atau data biometrik resmi sebagai pembanding,” jelas Kombes Pol dr Wahyu Hidajat, Kabid DVI Pusdokkes Polri. Tim DVI biasanya menggunakan sistem MAMBIS (Mobile Automatic Multi Biometric Identification System) untuk identifikasi lewat sidik jari. Namun dalam kasus ini, teknologi tersebut tidak bisa dimaksimalkan.
Upaya identifikasi melalui rekam gigi juga menemui jalan buntu. Data ante mortem dari keluarga korban sangat terbatas. Banyak keluarga belum bisa memberikan ciri-ciri fisik spesifik seperti tahi lalat, bekas luka, atau tanda lahir. “Meskipun ada yang merasa hafal, tapi pembanding fisiknya belum kami temukan,” tambah Wahyu.
Sebagai langkah terakhir, tim DVI akan melakukan tes DNA untuk memastikan identitas korban. Metode ini dinilai paling akurat, meskipun membutuhkan waktu lebih lama dan tergantung pada kondisi jaringan tubuh yang dijadikan sampel.
Jika hasil tes DNA sudah keluar, RS Bhayangkara akan segera menghubungi keluarga untuk proses penyerahan jenazah, serta mengatur pemulasaran dan pemakaman sesuai permintaan keluarga korban. (SP)
