Catatan Pinggir
R. Yoga Ari Diskara (Ketua JMSI Bengkulu Utara)
Dulu, dia datang membawa janji. Suaranya lantang, dadanya dibusungkan oleh keyakinan, dan matanya berbinar seperti pagi yang belum tercemar. Ia berkata akan mengayomi rakyat, menyiram keadilan ke ladang-ladang yang kering oleh kezaliman. Ia bersumpah di bawah langit yang disaksikan berjuta harap, bahwa jabatan bukanlah takhta, melainkan titipan.
Tapi waktu berjalan seperti arus sungai yang membawa sampah ambisi. Kini tinggal gema di sebuah pena, suaranya masih terdengar sayup-sayup. Tapi maknanya kosong seperti genderang perang tanpa peperangan. Di belakang meja berkaki gading, ia kini sibuk mencatat angka seperti dewa yang mengatur takdir.
Ia tak lagi berjalan di atas sumpah, tapi melayang di atas awan kepentingan. Tangannya yang dulu menggenggam keadilan, kini menggenggam pena untuk mendatangkan pundi-pundi kekayaan. Kakinya tak lagi menjejak bumi pertiwi, melainkan karpet merah yang digelar oleh para penjilat. Jabatan baginya bukan lagi sarana pengabdian, melainkan tangga menuju singgasana yang makin tinggi, makin jauh dari suara bumi.
Keserakahan itu tumbuh perlahan, seperti jamur di dinding istana. Tak cukup dengan jabatan, dia renggut yang lain. Tak puas dengan jabatan, ia cari kroni, ia ciptakan dinasti kecil. Ia menyusun lingkaran setia bukan dari yang terbaik, tapi dari yang paling patuh. Kejujuran diasingkan, meritokrasi dicibir, dan kebenaran dimasukkan ke dalam lemari besi, dikunci rapat oleh kepentingan.
Kini, rekeningnya bengkak? Rakyat menjadi latar belakang akan kepentingan. Ia menyapa rakyat hanya ketika butuh, lalu melupakannya. Ia memangsa rakyat seperti serigala lapar, mengunyah di semua lapisan dengan tawa yang disembunyikan di balik baju mahal dan dasi sutra.
Tapi jabatan, seperti api, tak pernah setia. Ia bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar. Mereka yang mabuk kuasa dan harta, cepat atau lambat, akan terpeleset oleh ambisi. Hanya masalah waktu sebelum topeng jatuh, dan wajah aslinya disorot terang oleh sejarah.
Dan ketika waktu itu datang—rakyat tak akan lupa. Mereka mungkin diam, mungkin sabar, tapi tak pernah benar-benar lupa. Sebab, sejarah punya caranya sendiri untuk membalas. Ia mencatat dengan tinta luka dan mengukir dengan tinta kebenaran.
Sungguh, manusia yang tak pernah puas adalah musuh bagi bangsanya sendiri. Ia menggali lubang untuk rakyat, lalu jatuh ke dalamnya sendiri. Dan ketika ia terperosok dalam kubangan keserakahan, barulah ia sadar: kekuasaan yang dulu ia genggam dengan rakus, tak mampu membeli sepotong kedamaian saat tinta rakyat kembali menggema seperti badai, tak terhindarkan, dan penuh murka.
*) Seluruh isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi Suryapagi tidak bertanggung jawab atas konsekuensi apapun terkait tulisan ini
